Ginseng
jawa (Talium paniculatum Gaertn.)
merupakan salah satu dari sekian banyak jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan
sebagai tanaman obat (Hidayat, 2005 dalam Muhallilin, 2012). Ginseng jawa
berkhasiat untuk mengatasi air susu ibu terlalu sedikit, nafsu makan kurang,
bisul, dan afrosidiak (Hariana, 2008 dalam Muhallilin, 2012). Selama ini upaya
yang telah dilakukan untuk perbanyakan ginseng jawa yaitu dengan biji, stek
batang maupun dengan umbinya. Namun ketiga cara tersebut memiliki beberapa
kelemahan antara lain keberhasilan tumbuh dengan biji sangat tergantung dari
faktor fisik dan faktor biologis biji tersebut (Hidayat, 2005 dalam Muhallilin,
2012).
Sumber:
Muhallilin.
2012. “Induksi Akar dari Eksplan Daun
Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) dengan
Zat Pengatur Tumbuh Auksin Secara
Invitro”. Program Studi S-1
Biologi Departemen Biologi
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga Surabaya.
Tampilkan postingan dengan label Kultur Jaringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kultur Jaringan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 14 September 2018
Tanaman Tembakau dalam Kultur Jaringan
Tembakau adalah tanaman musiman yang tergolong
dalam tanaman perkebunan. Tanaman ini tersebar di seluruh nusantara dan
mempunyai kegunaan yang sangat banyak, antara lain yaitu chlorogenic acid dan rutin yang terkandung dalam daun tembakau bermanfaat sebagai
antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas (Wang et al, 2008 dalam Nisak, 2012). Organogenesis
tunas tembakau dari eksplan daun adalah sistem regenerasi yang sangat efektif
yang digunakan untuk transformasi tanaman (Horsch et al., 1985 dalam Aditya, 2013).
Aditya (2013) menyatakan bahwa salah satu perbanyakan tanaman tembakau secara in vitro yang efisien adalah dengan
mengkulturkan organ yaitu eksplan dari daun muda tembakau, penggunaan eksplan
dari jaringan muda lebih sering berhasil karena sel-selnya aktif membelah,
dinding sel tipis karena belum terjadi penebalan lignin dan selulosa yang
menyebabkan kekakuan pada sel.
Sumber:
Nisak K., Tutik Nurhidayati., dan Kristanti I. Purwani. 2012. “Pengaruh Kombinasi konsentrasi ZPT NAA dan BAP pada Kultur Jaringan Tembakau Nicotiana tabacum var. Prancak 95”. Jurnal Sains dan Semi Pomits, 1(1): 1-6.
Faktor yang Mempengaruhi Inisiasi Akar dan Pertumbuhan Tumbuhan dalam Kultur Jaringan
Faktor-faktor yang memengaruhi inisiasi akar dan
pertumbuhan kultur jaringan tumbuhan adalah garam mineral, auksin, gula, suhu,
dan cahaya. Pertumbuhan dan morfogenesis tanaman secara kultur jaringan
dikendalikan oleh keseimbangan dan interaksi zat pengatur tumbuh (ZPT) dalam
eksplan (Ardiana dan Fitrianingsih, 2010). Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) merupakan
senyawa organik bukan hara, yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung,
menghambat, dan dapat mengubah proses fisiologi tumbuhan. Fungsi ZPT tersebut
adalah untuk merangsang pertumbuhan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan,
dan organ (Gunawan, 1987 dalam Nisak et
al., 2012). Untuk menunjang keberhasilan kultur jaringan maka perlu
diperhatikan faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan kultur jaringan.
Salah satu faktor yang berpengaruh adalah zat pengatur tumbuh (Nisak et al., 2012). Selain itu, mikronutrien atau mikroelemen
berfungsi sebagai pelengkap, pengkatalisis, kofaktor, dan pendukung pertumbuhan
tumbuhan, misalnya unsur Boron yang berfungsi untuk menjadi kofaktor enzim
dalam proses pembelahan sel dan metabolisme dan metabolisme asam nukleat (Taiz
dan Zeiger, 2010).
Sumber:
Ardiana, Dwi Wahyuni dan Ida Fitrianingsih. 2010. “Teknik Kultur Jaringan Tunas Pepaya Dengan Menggunakan Beberapa Konsentrasi Iba”. Jurnal Buletin Teknik Pertanian, 15(2): 52-55.
Nisak
K., Tutik Nurhidayati., dan Kristanti I.
Purwani. 2012. “Pengaruh Kombinasi
konsentrasi ZPT NAA dan BAP pada
Kultur Jaringan Tembakau Nicotiana tabacum var. Prancak 95”. Jurnal Sains dan Semi
Pomits, 1(1): 1-6.
Peran Sifat Dediferensiasi dan Morforgenesis Tumbuhan dalam Kultur Jaringan
Selain sifat totipotensi, tumbuhan juga mampu
melakukan dediferensiasi dan morfogenesis sehingga tumbuhan mampu untuk
dikultur (Aha, 2016). Kemudian, Aha (2016) menjelaskan lebih lanjut, respon pertama dari organ tumbuhan yaitu terbentuknya jaringan penutup
luka, sel-selnya terus membelah, jika pembelahannya tidak terkendali akan
membentuk massa sel yang tidak terorganisir atau disebut dengan kalus. Sel-sel
kalus ini berbeda dengan sel-sel eksplannya, sel-sel menjadi tidak
terdiferensiasi, proses ini disebut dediferensiasi atau kembali ke keadaan
tidak terdiferensiasi dan terus aktif dalam melakukan pembelahan. Perkembangan
selanjutnya yaitu morfogenesis yaitu terbentuknya organ-organ baru yang
kemudian akan tumbuh menjadi tanaman utuh atau plantlet yang dihasilkan melalui
proses organogenesis (diferensiasi meristem unipolar, menghasilkan ujung tunas
yang akan menjasi tunas atau ujung akar yang akan menjadi akar) dan
embryogenesis somatic (proses diferensiasi meristem bipolar yang berupa bakal
tunas dan akar, dua meristem yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman utuh).
Sumber:
Aha. 2016. “Kultur Jaringan: Pengertian, Fungsi, Prinsip, Jenis” [online] http://www.ilmudasar.com/2016/12/Pengertian-Fungsi-Prinsip-dan-Jenis-Kultur-Jaringan-adalah.html. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017 puku; 17.28 WIB.
Peran Sifat Totipotensi Tumbuhan dalam Kultur Jaringan
Ilmu yang mendasari kultur
jaringan merupakan botani, penyakit tumbuhan, fisiologi tumbuhan, biologi sel
tumbuhan dan genetika tumbuhan. Prinsip dasar yang
digunakan dalam melakukan kultur jaringan adalah sifat totipotensi sel pada
tanaman (Aha, 2016). Totipotensi sel dikemukakan oleh scheiden dan schwan. Totipotensi yaitu kemampuan
setiap sel tumbuhan untuk tumbuh menjadi individu baru yang sempurna (Aha,
2016). Terdapat sel atau jaringan yang belum terdiferensiasi pada tumbuhan,
yaitu jaringan yang bersifat meristematik atau jaringan meristem serta jaringan
dasar (jaringan parenkim) yang masih bersifat meristematik (Alfiansyah, 2011).
Sumber:
Aha. 2016. “Kultur Jaringan: Pengertian, Fungsi, Prinsip, Jenis” [online] http://www.ilmudasar.com/2016/12/Pengertian-Fungsi-Prinsip-dan-Jenis-Kultur-Jaringan-adalah.html. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017 pukul 17.28 WIB.
Alfiansyah,
Muhammad. 2016. “Teknik Kultur
Jaringan Tumbuhan” [online]
http://www.sentra-edukasi.com/2011/06/teknik-kultur-jaringan- tumbuhan.html#.WeP8D2iCzIV. Diakses pada
tanggal 16 Oktober 2017 puku;
17.25 WIB.
Pengaruh Pemberian Sitokinin dalam Kultur Jaringan
Sitokinin memacu pembentukan kalus karena
aktivitas yang kuat untuk memacu proses diferensiasi sel, organogenesis dan
menjaga pertumbuhan kalus. Beberapa golongan sitokinin yang sering digunakan
dalam metode kultur jaringan untuk menginduksi kalus adalah BA dan kinetin
(Sitinjak et al., 2015). Di antara
berbagai hormon sitokinin sintetik, BAP paling sering digunakan karena sangat
efektif menginduksi pembentukan daun dan penggandaan tunas, mudah didapat dan
harganya relatif murah (George dan Sherrington, 1984 dalam Sari, 2005).
Sitokinin yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah BAP, karena BAP
lebih tahan terhadap degradasi dan harganya lebih murah (Nisak et al., 2012). Praktikum ini menggunakan
BA sebagai hormon sitokinin sintetis. BA adalah kelompok sitokinin yang
berfungsi untuk pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis (Gunawan, 1992 dalam
Sulichantini, 2016).
Sumber:
Sari, Laela. 2005. “Optimalisasi Media untuk Jumlah Daun dan Multiplikasi Tunas Lidah Buaya (Aloe vera) dengan Pemberian BAP dan Adenin”. Jurnal Biodiversitas, 6(3): 178-180.
Sitinjak,
Marlina Agustina, ayta Novaliza Isda,
dan Siti Fatonah. 2015. “Induksi Kalus
Dari Eksplan Daun In vitro Keladi Tikus (Typhonium sp.) Dengan Perlakuan 2,4-D dan Kinetin”. Jurnal
Biologi, 8(1): 32-39.
Nisak
K., Tutik Nurhidayati., dan Kristanti I.
Purwani. 2012. “Pengaruh Kombinasi
konsentrasi ZPT NAA dan BAP pada
Kultur Jaringan Tembakau Nicotiana tabacum var. Prancak 95”. Jurnal Sains dan Semi
Pomits, 1(1): 1-6.
Pengaruh Pemberian Auksin dalam Kultur Jaringan
Auksin
merupakan salah satu ZPT yang sering digunakan dalam kultur jaringan tanaman
dengan dimasukkan ke dalam media tumbuh. Peran fisiologis auksin adalah
mendorong pemanjangan sel, pembelahan sel, diferensiasi jaringan xylem dan
floem, serta pembentukan akar. Dalam kultur jaringan, auksin diperlukan untuk
pembentukan klorofil, pertumbuhan kalus, suspensi sel morfogenesis akar dan
tunas (Ardiana dan Fitrianingsih, 2010). Auksin sangat efektif dalam
menginisiasi pembentukan akar pada banyak spesies tanaman (Weaver, 1972 dalam
Sulichantini, 2016). Auksin sintetis terdiri atas indole 3 acetic acid (IAA), indole 3 butyric acid (IBA), 1-naphthaleneacetic acid (NAA), dan herbisida yang bersifat
auksin (Wattimena, 1992 dalam Ardiana dan Fitrianingsih, 2010). Praktikum
kultur jaringan ini menggunakan NAA sebagai hormon auksin sintetis. NAA
(Naftaleine Asetat Acid) adalah zat
pengatur tumbuh yang tergolong auksin. Pengaruh auksin terhadap perkembangan
sel menunjukkan bahwa auksin dapat meningkatkan sintesa protein. Dengan adanya
kenaikan sintesa protein, maka dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam
pertumbuhan (Sulichantini, 2016). α-Naftalen Asam Asetat (NAA) merupakan auksin
sintetik, tidak mengalami oksidasi enzimatik seperti IAA (Indole-3 Asetic Acid). Senyawa tersebut dapat diberikan
pada medium kultur konsentrasi yang lebih rendah, berkisar 0,1-2,0 mg/l
(Zulkarnain, 2009 dalam Triningsih et al., 2013).
Sumber:
Sumber:
Ardiana,
Dwi Wahyuni dan Ida Fitrianingsih.
2010. “Teknik Kultur Jaringan
Tunas Pepaya Dengan
Menggunakan Beberapa Konsentrasi
Iba”. Jurnal Buletin Teknik Pertanian,15(2): 52-55.
Perbedaan Rasio Auksin dan Sitokinin dalam Kultur Jaringan
Rasio konsentrasi auksin yang lebih tinggi
dibandingkan dengan sitokinin akan mendorong pembentukan akar, sedangkan rasio
konsentrasi sitokinin yang lebih tinggi dibandingkan dengan auksin akan memacu
pembentukan tunas (Mondal et al.,
1990 dalam Ardiana dan Fitrianingsih, 2010). Penambahan auksin pada media yang
mengandung sitokinin akan meningkatkan penambahan jumlah tunas, namun jika
ditambahkan sitokinin tanpa dikombinasikan dengan auksin tidak memacu jumlah
tunas (Harahap dan Nusyirwan 2014).
Sumber:
Ardiana, Dwi Wahyuni dan Ida Fitrianingsih. 2010. “Teknik Kultur Jaringan Tunas Pepaya Dengan Menggunakan Beberapa Konsentrasi Iba”. Jurnal Buletin Teknik Pertanian, 15(2): 52-55.
Harahap,
Fauziyah dan Nusyirwan. 2014. “Induksi
Tunas Nanas (Ananas comosus L.
Merr) In Vitro Dengan Pemberian Dosis Auksin Dan Sitokin Yang Berbeda”. Jurnal Saintika,
15(11):124-131.
Alasan Penambahan Auksin dan Sitokinin dalam Kultur Jaringan
Penambahan auksin atau sitokinin ke dalam media
kultur dapat meningkatkan konsentrasi zat pengatur tumbuh endogen di dalam sel,
sehingga menjadi “faktor pemicu” dalam proses tumbuh dan perkembangan jaringan
(Lestari, 2011 dalam Sitinjak et al.,
2015). Auksin dan sitokinin berinteraksi sedemikian rupa sehingga pemakainan
auksin dan sitokinin bersama-sama harus mempertimbangkan konsentrasi maupun
perbandingannya dalam media(Wetherell, 1982 dalam Sulichantini, 2016).
Sumber:
Sitinjak, Marlina Agustina, ayta Novaliza Isda, dan Siti Fatonah. 2015. “Induksi Kalus Dari Eksplan Daun In vitro Keladi Tikus (Typhonium sp.) Dengan Perlakuan 2,4-D dan Kinetin”. Jurnal Biologi, 8(1): 32-39.
Manfaat Kultur Jaringan
Kultur jaringan memiliki berbagai manfaat, diantaranya adalah
untuk memperbanyak tanaman secara vegetatif, pemuliaan tanaman dan menghasilkan tanaman dengan
genetik baru yang sudah diperbaiki dengan pencampuran jenis, mempelajari
fisiologi tanaman dan hubungannnya dengan penyakit tanaman, mempelajari
biokimia tanaman, dan menghasilkan tanaman baru dengan cepat (Aha, 2016).
Berdasarkan berbagai manfaat kultur jaringan tersebut, sebagai mahasiswa
rekayasa pertanian tanaman merupakan objek utama yang dibahas. Teknik kultur jaringan
merupakan teknik yang efisien untuk perbanyakan klonal tanaman dan mendapatkan
bibit unggul tanaman (Kurniawan dan Widoretno, 2016).
Sumber:
Aha. 2016. “Kultur Jaringan: Pengertian, Fungsi, Prinsip, Jenis” [online] http://www.ilmudasar.com/2016/12/Pengertian-Fungsi-Prinsip-dan-Jenis-Kultur-Jaringan-adalah.html. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017 puku; 17.28 WIB.
Sumber:
Aha. 2016. “Kultur Jaringan: Pengertian, Fungsi, Prinsip, Jenis” [online] http://www.ilmudasar.com/2016/12/Pengertian-Fungsi-Prinsip-dan-Jenis-Kultur-Jaringan-adalah.html. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017 puku; 17.28 WIB.
Kurniawan,
Alfian Dwi dan Wahyu Widoretno. 2016.
“Regenerasi In Vitro Tanaman
Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)”. Jurnal Biotropika,
4(1): 1-4.
Pengertian Media MS (Murashige dan Skoog)
Apa Itu Media MS (Murashige dan Skoog) ?
Sumber:
Sari, Laela. 2005. “Optimalisasi Media untuk Jumlah Daun dan Multiplikasi Tunas Lidah Buaya (Aloe vera) dengan Pemberian BAP dan Adenin”. Jurnal Biodiversitas, 6(3): 178-180.
Ardiana, Dwi Wahyuni dan Ida Fitrianingsih. 2010. “TEKNIK Kultur Jaringan Tunas Pepaya Dengan Menggunakan Beberapa Konsentrasi Iba”. Jurnal Buletin Teknik Pertanian, 15(2): 52-55.
Media MS (Murashige dan Skoog) merupakan media
dasar yang dapat digunakan untuk memperbanyak berbagai jenis tanaman
(Sulichantini, 2016). Media dasar Murashige dan Skoog digunakan untuk
menginduksi penggandaan tunas in vitro
(Sari, 2005). Media tersebut diatur keasamannya pada pH 5,7, diberi agar, lalu
diautoklaf pada suhu 121°C dan tekanan 1 atm selama 15 menit, kemudian disimpan
selama 3 hari untuk mengeliminasi media yang terkontaminasi jamur atau bakteri
(Sari, 2005). Media yang digunakan adalah media dasar MS yang mengandung hara
makro dan mikro (Ardiana dan Fitrianingsih, 2010).
Sumber:
Sari, Laela. 2005. “Optimalisasi Media untuk Jumlah Daun dan Multiplikasi Tunas Lidah Buaya (Aloe vera) dengan Pemberian BAP dan Adenin”. Jurnal Biodiversitas, 6(3): 178-180.
Ardiana, Dwi Wahyuni dan Ida Fitrianingsih. 2010. “TEKNIK Kultur Jaringan Tunas Pepaya Dengan Menggunakan Beberapa Konsentrasi Iba”. Jurnal Buletin Teknik Pertanian, 15(2): 52-55.
Langganan:
Postingan (Atom)
Pendanaan Sumber Internal dan Eksternal Berikut Contohnya.
Dalam melakukan investasi, perusahaan seringkali membutuhkan tambahan dana yang cukup besar, baik yang bersumber dari internal, maupun ekst...